Beberapa hari lagi, kegiatan Pra Los adik-adik kelasku (kelas X) akan segera di mulai. Jujur saja, aku tidak terlalu mengerti kualitas adik-adik kelasku ini (kualitas yang terlihat dari nilai UNAS ataupun score TPA). Selama pendafaran peserta didik baru tahun ini, aku tidak pernah melihat nilai-nilai adik adik kelas 9 yang masuk ke kelas X, baik yang masuk ke SMA ku ataupun ke SMA lain.
Tidak seperti teman-temanku yang memantau perkembangan nilai siswa siswi yang masuk SMA-SMA favorit.
Kenapa?
Sekarang aku sudah kelas 2 SMA. Dan sampai detik ini aku belum mampu untuk mencintai sekolah ini. Masih ada rasa tidak ikhlas karena aku masuk di SMA yang menjadi pilihan ke 2ku ini. Izinkan saya menulis pengalaman saya.
Waktu itu, waktu UNAS semakin dekat. Buku detik-detik, buku latihan soal dari tempatku les, soal-soal guru, aku kerjakan. Ambisiku sangat besar untuk masuk di SMA favoritku, SMA 6.
Berbagai doa aku lantunkan kepada Tuhan. Selalu ke semangati diriku, yang kadang merasa lelah. Selalu ku ingat nasihat Ibu 'Jangan mudah putus asa Nduk. Kejar cita-citamu, kejar apa yang kamu mau' Di Kota ini aku memang hanya tinggal dengan Pakde, jadi disini aku harus benar-benar mandiri.
Alhamdulillah, aku mendapat nilai 36,05 nilai yang kudapat dengan perjuanganku. Tanpa Joki yang beredar di sana-sini. Kesempatanku masuk SMA 6 semakin dekat. Langkahku kurang melaui tes TPA (tes potensial akademik), semangatku semakin menggebu, ke sana-sini mencari buku, dari toko buku di Mall, hingga menjelajah ke toko loak.
Entah karena gugup atau memang belum siap, score akhirku hanya 113,sekian .
Aku takut nilai ini tak mampu membawaku ke sekolah impianku
Hari pendaftranku tiba, aku mendaftra melalui pendaftran online untuk SMA Kawasan (ada 2 jalur pendaftran SMA kawasan & pendaftran SMA regular) ada 2 pilihan, pilihan pertama aku isi SMA 6, awalnya aku berniat mengosongkan pilihan ke 2, agar kalau aku gagal di SMA 6 aku bisa masuk SMA lain melalui jalur regular. Sayangnya kakak sepupuku memintaku mengisi dengan Sekolah 'X' (Sekolahku saat ini) jujur aku tidak setuju karena kau tidak suka SMA ini namun alasannya "biar kamu tidakrepot nantinya kalau gagal di SMA 6, nanti itu susah lo kalau jalur regular, banyak yang nilainya lebih tinggi". Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku mengisinya. Saat itu Pakdeku yang awalnya bisa aku mintaisaran pergi ke Bandung, aku benar-benar mempertimbangkannya sendirian. Mau tanya ke Ibuku tentang SMA yang bagus di kota ini, beliaujuga tidak tahu karena memang belia tidak tinggal di Kota ini
Hari pengumuan tiba. Jam 2 siang aku cek hasil belum keluar. Jam 5 aku cek hasil belum keluar. Hingga jam 12 aku menunggu, sampai aku lihat temanku membuat tweet di twitter "Alhamdulillah Smanam (SMA 6)" Aku langsung kembali ke halaman ppdb, langsung ku ketik no ujianku dan.....
Aku diterima di SMA...... pilihan ke 2 ku. Aku gagal di SMA 6.
Hancur perasanku, aku marah, kepada Kakaku yang memberi ide mengisi pilihan ke 2, marah aku kepada Tuhan, marah aku kepada keluargaku yang tidak ikut membantuku membantu memilih SMA.
Saat itu selisih nilaiku dengan nilai terendah yang masuk di SMA 6 adalah 0,01. Aku stres. Malam-malam selanjutnya air mata tak henti menetes.
2 Hari kemudian kesempatankudatang lagi, banyak orang tua yang mendatangi dinas pendidikan karen nilai anknya lebih tingi dari nilai terendah di SMA yang di daftra, akhirnya dinas memberi kesempata pemenuhan pagu. Aku masih ingat ketika itu, pagi jam 5:30 aku bersepeda mnecari koran (pemberitaan pemenuhan pagu ada di koran JAWAPOS)
Ketika aku bilang kepada Pakdeku akan hal ini pendapat beliau adalah
"Sudahlah semua sekolah sama saja."
Terakhir aku cek, pemenuhan pagu di SMA 6 nilai yang diterima adalah nilai-nilai di bawahku.
Akhirnya aku melakukan pendaftran ulang di SMA 'X', di jam terakhir sebelum penutupan.
Hingga saat ini aku masih merasa marah akan kejadian ini. Aku meras sudah bekerja eras untuk cita-citaku, ketika aku tinggal 1 langkah lagi, aku merasa orang-orang disekitarku tidak mau berjuang sekeras aku berjuang.
Aku marah bukan karena terlalu berambisi untuk masuk SMA 6.
Aku marah karena orang-orang di sekitarku tidak memahami perjuanganku, apalagi ketika pendaftran aku melakukannya sendiri tanpa dampingan siapapun. Itu yang membuat aku marah, aku merasa kegagalan ini karena kurangnya dukungan orang-orang di sekitarku. Dukungan yang aku butukan di langkah terakhirku.
Well,
Untuk anda orang tua atau keluarga dari anak-anak hebat yang sedang berjuang mengejar cita-citanya.
Dukungan materi memang diperlukan untuk mencapai cita-cita anak anda. Tapi dukungan keluarga dalam bentuk perhatian dan kasih sayang juga sangat dibutuhkan, terlbih lagi ketika aanak anda mengalami kegagalan. Terus dampingi dia,beri masukan dan saran tanpa mereka minta.
Dengan terus mencurahkan perhatian anda terhadap anak tersebut dan terus ikut berjuang untuk cita-cita anak teresbut, DIA TIDAK AKAN TERUS KECEWA DENGAN KEGAGALAN INI TERLEBIH DENGAN KATA 'SEANDAINYA...SEANDAINYA...DAN SEANDAINYA'
Hingga saat ini saya masih berusaha ikhlas, berusaha meyakini ini adalah jalan Tuhan, berusaha bangkit ketika kata 'seandainya..seandainya..seandainya.. muncul di kepala saya.
Hingga saat ini saya masih berusaha memahami kegagalan kemarin dan mempersiapkan kemenangan esok.
-T-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar