"Alhamdulillah Ya Allah"
Akupun bersimpuh dalam doa setelah menjalankan kewajibanku menunaikan shalat. Ketika selesai berdoa, ponselku berbunyi. Ternyata Samuel, laki-laki yang 1 tahun belakangan ini menjadi pacarku.
"Nis, malam ini kamu ada acara?" Aku baru sadar kalau ini malam minggu
"Enggak ada Sam, kenapa?"
"Jalan yuk, bosen nih di rumah."
"Ini udah jam setengah delapan, besok aja."
"Besok aku ke gereja,bentar kok gak lama."
"Aku tanya Mama dulu ya."
"Yaudah deh, nanti langsung kabarin yaa."
"Ok... " Langsung ku matikan ponselku, lalu beranjak mencari Mama.
"Mamaaa"
"Iya sayang, mama di ruang tamu Nis."
"Ma, Annisa pergi sama Samuel boleh?"
"Malam-malam gini?"
"Iya Ma. Bentar kok, boleh ya?"
"No! Kalau mau keluar besok aja."
Keputusan Mama sudah tegas, aku tidak boleh. Memang sih keluar malam adalah hal yang riksan terutama buat anak perempuan apalagi dengan orang yang bukan mukhrimnya. Well, mungkin sebagian menganggap ini hal yang Kuno, tapi alasan ini masuk akal kok, 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan, hanya sebagian kecil yang mampu menahan hasrat gejolak masa remaja.
Akhirnya, aku dan Samuel sepakat pergi esok harinya, dengan catatan aku harus menunggunya selesai ibadah di gereja.
Keesokan harinya pukul 09.30 Samuel sudah mejemputku, kami langsung menuju Gerejanya, setelah itu dia masuk ke gereja dan beribadah. Aku menunggunya di taman gereja, sendirian, untung aku membawa buku, sehingga aku tidak terlalu bosan.
2 jam kemudian dia sudah keluar.
"Nis maaf ya nungggu lama. Yuk kita jalan."
"Iya gak papa Yuk."
Aku dan Samuelpun pergi, tujuan kami adalah mnecari CD fim-fim terbaru dan mencari berbagai referensi buku untuk tugas kuliah kami.
Ketika waktu menunjukan pukul 13.30
"Samuel, aku belum shalat dzuhur nih. Temani aku cari masjid ya."
"Okay bos, yuk"
Begitulah, walaupun beda agama, kami tetap memudahkan satu sama lain untuk beribadah sesuai agama masing-masing.
pukul 5 sore aku sudah di antar pulang Samuel. Ketika kami datang, Mama menunggu di depan rumah. Melihat Samuel Mama langsung masuk ke dalam dengan menyunggingkan senyum. Setelah Samuel pergi, aku masuk.
"Annisa, duduk dulu di sini." Suara Papa engejutkanku
"Iya Pa, ada apa?" Aku mulai mengkhawatirkan topik apa gerangan yang akan dibicarakan Papa.
"Kamu masih sama teman kamu yang Kristen itu?"
"Masih Pa kenapa?"
"Apa dia siap Nak kalau besok pindah agama?"
"Pindah agama? Buat apa Pa? Nikah? Kan masih lama."
"Walaupun masih lama tetap harus di pertimbangkan mulai sekarang. Papa gak mau kalau calon suami kamu bukan orang yang seagam dengan kita."
"Pa, semua agama kan sama saja. Jadi nanti kalupun aku dan Samuel menikah tidak perlu ada yang pindahAgama"
'Nak, pertimbangkan kata-kata Papa ini. Papa tidak melarang kamu bertemandengan orang yang berbeda gama. Hanya saja, kalau kamu harus hidup berdampingan dengan laki-laki yang beda agama, Papa dan Mama tidak akansetuju. Menikah dengan yang seiman saja masih banyak perbedaannya lo Nak, apalagi yang beda agama, beda keyakinana, beda Tuhan."
Akupun terdiam mendengar kata-kata Papa.
Dalam hati aku bertanya kenapa harus kami Ya Allah?
Akhirnya kuputuskan untuk menulis surat untuk Samuel.
Mereka bilang kita berbeda, tapi bukankah perbedaan yang menyatukan dan melengkapi?
Mereka bilang agama kita jadi masalahnya, apa maslahnya kita sama-sama manusia yang berTuhan
Bukankah kita sama?
Kita sama-sama berada di dunia ini
Kita sama-sama beriman dan berTuhan
Kita hanya menyebut nama Tuhan dengan cara berbeda
Kita hanya memuja Tuhan dengan cara yang berbeda.
Namun, perlahan aku sadar.
Kehidupan ini bukan hanya aku dan kamu seorang
Kita bukan orang yang hidup di pulai tak bernama
Jika perniahan menyatuka kita,
bukan hanya Aku dan Kamu yang harus menerima perbedaan kita dalam menyebut nama Tuhan
Namun keluarga kita juga terlibat
Maafkan aku Sayang
Keluargaku belum mampu, mendengarmu memanggil nama Allah dengan cara yang berbeda
Aku harap, Tuhan kita memberi kita jalan yang terbaik, walau bukan jalan yang dapat kita tempuh beriringan...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar