Sayang...
Masih bolehkan aku panggil sayang?
Apa kabar?
Lama pesanmu tak datang menghampiri ponsel ini
Kamu marah?
Setelah kata putus itu tak mampu aku tahan
Maaf sayang
Bukan maksudku menyakitimu
Dan menodai janji kita berdua
Namun apa daya
Keadaan tidak di pihak kita
Aku terpaksa memilih meninggalkanmu
Karna aku tidak ingin jadi anak durhaka
Akibat membangkak dengan orang tuaku
Sayang
Aku dengar kamu akan menghadapi pemilu di sekolahmu
Aku harap kamu berhasil dengan semua pilihanmu
Aku tetap merengkuhmu dalam doa
Aku tetap mencintaimu
Kamu bisa anggap ini gombal atau rayuan murahan
Tapi
Hati ini masih jujur dan tulus
Masih sama seperti ketika aku mengiyakan permintaanmu menjadikanku kekasihmu
Masih sama sayangku
Aku mencintaimu
R
Selasa, 04 November 2014
Kamis, 10 Juli 2014
Langkah Nyata Untuk Gaza.
Akhir-akhir ini sering saya jumpai tweet teman-teman saya di twitter yang menyampaikan rasa bela sungkawanya terhadap kejadian yang dialami Saudara kita di Gaza, Palestina.
Beramai-ramai mereka mengeluarka pendapat mereka, mengeluarkan unek-unek mereka.
Di BBM tidak kalah ramai, banyak teman-teman saya mengganti DP (Display Picture) dengan beragam tulisan SAVE GAZA, PRAY FOR GAZA
Bahkan BC pun tidak luput dari ajakan berdoa untuk saudara di Gaza.
Namun buat saya "ITU ADALAH HAL YANG TIDAK PENTING"
Kenapa?
Well, saudara kita di Gaza, tidak butuh DP kamu, tidak butuh BC kamu, tidak butuh Tweet kamu. Doa? Ya perlu, tapi, APAKAH KITA AKAN TERUS BERDOA TANPA BERTINDAK?!
STOP MELAKUKAN HAL YANG TIDAK PENTING,
Indonesia telah memiliki rumah sakit bantuan di Gaza tp RS tersebut tentunya membutuhkan alat medis dan obat-obatan.
mari kita donasikan sebagian kecil harta yang kita miliki, donasi anda dapat di salurkan melalui
rekening BCA: 686.0153678 BSM: 700.1352.061 BRI: 038.501.0007.60308 MANDIRI: 124.0008111925 atas nama Medical Emergency Rescue Committee untuk info lebih lanjut anda dapat menghubungi 0811990176 atau check web-nya di WWW.MER-C.ORG
Kawan, doa kita perlu untuk saudara kita di Gaza, karena Tuhan selalu mendengar doa kita, namun, mereka juga memerlukan tindakan nyata untuk keadaan mereka di sana kawan.
Mari, kita bersama-sama kita membantu.
Ini bukan tentang agama, negara, ini tentang perjuang kemerdekaan, yang 'seharusnya' dimiliki semua orang, termasuk saudara kita di Gaza.
#FightForGaza #PrayForGaza
Beramai-ramai mereka mengeluarka pendapat mereka, mengeluarkan unek-unek mereka.
Di BBM tidak kalah ramai, banyak teman-teman saya mengganti DP (Display Picture) dengan beragam tulisan SAVE GAZA, PRAY FOR GAZA
Bahkan BC pun tidak luput dari ajakan berdoa untuk saudara di Gaza.
Namun buat saya "ITU ADALAH HAL YANG TIDAK PENTING"
Kenapa?
Well, saudara kita di Gaza, tidak butuh DP kamu, tidak butuh BC kamu, tidak butuh Tweet kamu. Doa? Ya perlu, tapi, APAKAH KITA AKAN TERUS BERDOA TANPA BERTINDAK?!
STOP MELAKUKAN HAL YANG TIDAK PENTING,
Indonesia telah memiliki rumah sakit bantuan di Gaza tp RS tersebut tentunya membutuhkan alat medis dan obat-obatan.
mari kita donasikan sebagian kecil harta yang kita miliki, donasi anda dapat di salurkan melalui
rekening BCA: 686.0153678 BSM: 700.1352.061 BRI: 038.501.0007.60308 MANDIRI: 124.0008111925 atas nama Medical Emergency Rescue Committee untuk info lebih lanjut anda dapat menghubungi 0811990176 atau check web-nya di WWW.MER-C.ORG
Kawan, doa kita perlu untuk saudara kita di Gaza, karena Tuhan selalu mendengar doa kita, namun, mereka juga memerlukan tindakan nyata untuk keadaan mereka di sana kawan.
Mari, kita bersama-sama kita membantu.
Ini bukan tentang agama, negara, ini tentang perjuang kemerdekaan, yang 'seharusnya' dimiliki semua orang, termasuk saudara kita di Gaza.
#FightForGaza #PrayForGaza
Rabu, 09 Juli 2014
Aku, Kamu, Tuhan, Allah.
"Assalamualaikum warrahmatullahiwabarakatu."
"Alhamdulillah Ya Allah"
Akupun bersimpuh dalam doa setelah menjalankan kewajibanku menunaikan shalat. Ketika selesai berdoa, ponselku berbunyi. Ternyata Samuel, laki-laki yang 1 tahun belakangan ini menjadi pacarku.
"Nis, malam ini kamu ada acara?" Aku baru sadar kalau ini malam minggu
"Enggak ada Sam, kenapa?"
"Jalan yuk, bosen nih di rumah."
"Ini udah jam setengah delapan, besok aja."
"Besok aku ke gereja,bentar kok gak lama."
"Aku tanya Mama dulu ya."
"Yaudah deh, nanti langsung kabarin yaa."
"Ok... " Langsung ku matikan ponselku, lalu beranjak mencari Mama.
"Mamaaa"
"Iya sayang, mama di ruang tamu Nis."
"Ma, Annisa pergi sama Samuel boleh?"
"Malam-malam gini?"
"Iya Ma. Bentar kok, boleh ya?"
"No! Kalau mau keluar besok aja."
Keputusan Mama sudah tegas, aku tidak boleh. Memang sih keluar malam adalah hal yang riksan terutama buat anak perempuan apalagi dengan orang yang bukan mukhrimnya. Well, mungkin sebagian menganggap ini hal yang Kuno, tapi alasan ini masuk akal kok, 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan, hanya sebagian kecil yang mampu menahan hasrat gejolak masa remaja.
Akhirnya, aku dan Samuel sepakat pergi esok harinya, dengan catatan aku harus menunggunya selesai ibadah di gereja.
Keesokan harinya pukul 09.30 Samuel sudah mejemputku, kami langsung menuju Gerejanya, setelah itu dia masuk ke gereja dan beribadah. Aku menunggunya di taman gereja, sendirian, untung aku membawa buku, sehingga aku tidak terlalu bosan.
2 jam kemudian dia sudah keluar.
"Nis maaf ya nungggu lama. Yuk kita jalan."
"Iya gak papa Yuk."
Aku dan Samuelpun pergi, tujuan kami adalah mnecari CD fim-fim terbaru dan mencari berbagai referensi buku untuk tugas kuliah kami.
Ketika waktu menunjukan pukul 13.30
"Samuel, aku belum shalat dzuhur nih. Temani aku cari masjid ya."
"Okay bos, yuk"
Begitulah, walaupun beda agama, kami tetap memudahkan satu sama lain untuk beribadah sesuai agama masing-masing.
pukul 5 sore aku sudah di antar pulang Samuel. Ketika kami datang, Mama menunggu di depan rumah. Melihat Samuel Mama langsung masuk ke dalam dengan menyunggingkan senyum. Setelah Samuel pergi, aku masuk.
"Annisa, duduk dulu di sini." Suara Papa engejutkanku
"Iya Pa, ada apa?" Aku mulai mengkhawatirkan topik apa gerangan yang akan dibicarakan Papa.
"Kamu masih sama teman kamu yang Kristen itu?"
"Masih Pa kenapa?"
"Apa dia siap Nak kalau besok pindah agama?"
"Pindah agama? Buat apa Pa? Nikah? Kan masih lama."
"Walaupun masih lama tetap harus di pertimbangkan mulai sekarang. Papa gak mau kalau calon suami kamu bukan orang yang seagam dengan kita."
"Pa, semua agama kan sama saja. Jadi nanti kalupun aku dan Samuel menikah tidak perlu ada yang pindahAgama"
'Nak, pertimbangkan kata-kata Papa ini. Papa tidak melarang kamu bertemandengan orang yang berbeda gama. Hanya saja, kalau kamu harus hidup berdampingan dengan laki-laki yang beda agama, Papa dan Mama tidak akansetuju. Menikah dengan yang seiman saja masih banyak perbedaannya lo Nak, apalagi yang beda agama, beda keyakinana, beda Tuhan."
Akupun terdiam mendengar kata-kata Papa.
Dalam hati aku bertanya kenapa harus kami Ya Allah?
Akhirnya kuputuskan untuk menulis surat untuk Samuel.
Mereka bilang kita berbeda, tapi bukankah perbedaan yang menyatukan dan melengkapi?
Mereka bilang agama kita jadi masalahnya, apa maslahnya kita sama-sama manusia yang berTuhan
Bukankah kita sama?
Kita sama-sama berada di dunia ini
Kita sama-sama beriman dan berTuhan
Kita hanya menyebut nama Tuhan dengan cara berbeda
Kita hanya memuja Tuhan dengan cara yang berbeda.
Namun, perlahan aku sadar.
Kehidupan ini bukan hanya aku dan kamu seorang
Kita bukan orang yang hidup di pulai tak bernama
Jika perniahan menyatuka kita,
bukan hanya Aku dan Kamu yang harus menerima perbedaan kita dalam menyebut nama Tuhan
Namun keluarga kita juga terlibat
Maafkan aku Sayang
Keluargaku belum mampu, mendengarmu memanggil nama Allah dengan cara yang berbeda
Aku harap, Tuhan kita memberi kita jalan yang terbaik, walau bukan jalan yang dapat kita tempuh beriringan...
"Alhamdulillah Ya Allah"
Akupun bersimpuh dalam doa setelah menjalankan kewajibanku menunaikan shalat. Ketika selesai berdoa, ponselku berbunyi. Ternyata Samuel, laki-laki yang 1 tahun belakangan ini menjadi pacarku.
"Nis, malam ini kamu ada acara?" Aku baru sadar kalau ini malam minggu
"Enggak ada Sam, kenapa?"
"Jalan yuk, bosen nih di rumah."
"Ini udah jam setengah delapan, besok aja."
"Besok aku ke gereja,bentar kok gak lama."
"Aku tanya Mama dulu ya."
"Yaudah deh, nanti langsung kabarin yaa."
"Ok... " Langsung ku matikan ponselku, lalu beranjak mencari Mama.
"Mamaaa"
"Iya sayang, mama di ruang tamu Nis."
"Ma, Annisa pergi sama Samuel boleh?"
"Malam-malam gini?"
"Iya Ma. Bentar kok, boleh ya?"
"No! Kalau mau keluar besok aja."
Keputusan Mama sudah tegas, aku tidak boleh. Memang sih keluar malam adalah hal yang riksan terutama buat anak perempuan apalagi dengan orang yang bukan mukhrimnya. Well, mungkin sebagian menganggap ini hal yang Kuno, tapi alasan ini masuk akal kok, 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan, hanya sebagian kecil yang mampu menahan hasrat gejolak masa remaja.
Akhirnya, aku dan Samuel sepakat pergi esok harinya, dengan catatan aku harus menunggunya selesai ibadah di gereja.
Keesokan harinya pukul 09.30 Samuel sudah mejemputku, kami langsung menuju Gerejanya, setelah itu dia masuk ke gereja dan beribadah. Aku menunggunya di taman gereja, sendirian, untung aku membawa buku, sehingga aku tidak terlalu bosan.
2 jam kemudian dia sudah keluar.
"Nis maaf ya nungggu lama. Yuk kita jalan."
"Iya gak papa Yuk."
Aku dan Samuelpun pergi, tujuan kami adalah mnecari CD fim-fim terbaru dan mencari berbagai referensi buku untuk tugas kuliah kami.
Ketika waktu menunjukan pukul 13.30
"Samuel, aku belum shalat dzuhur nih. Temani aku cari masjid ya."
"Okay bos, yuk"
Begitulah, walaupun beda agama, kami tetap memudahkan satu sama lain untuk beribadah sesuai agama masing-masing.
pukul 5 sore aku sudah di antar pulang Samuel. Ketika kami datang, Mama menunggu di depan rumah. Melihat Samuel Mama langsung masuk ke dalam dengan menyunggingkan senyum. Setelah Samuel pergi, aku masuk.
"Annisa, duduk dulu di sini." Suara Papa engejutkanku
"Iya Pa, ada apa?" Aku mulai mengkhawatirkan topik apa gerangan yang akan dibicarakan Papa.
"Kamu masih sama teman kamu yang Kristen itu?"
"Masih Pa kenapa?"
"Apa dia siap Nak kalau besok pindah agama?"
"Pindah agama? Buat apa Pa? Nikah? Kan masih lama."
"Walaupun masih lama tetap harus di pertimbangkan mulai sekarang. Papa gak mau kalau calon suami kamu bukan orang yang seagam dengan kita."
"Pa, semua agama kan sama saja. Jadi nanti kalupun aku dan Samuel menikah tidak perlu ada yang pindahAgama"
'Nak, pertimbangkan kata-kata Papa ini. Papa tidak melarang kamu bertemandengan orang yang berbeda gama. Hanya saja, kalau kamu harus hidup berdampingan dengan laki-laki yang beda agama, Papa dan Mama tidak akansetuju. Menikah dengan yang seiman saja masih banyak perbedaannya lo Nak, apalagi yang beda agama, beda keyakinana, beda Tuhan."
Akupun terdiam mendengar kata-kata Papa.
Dalam hati aku bertanya kenapa harus kami Ya Allah?
Akhirnya kuputuskan untuk menulis surat untuk Samuel.
Mereka bilang kita berbeda, tapi bukankah perbedaan yang menyatukan dan melengkapi?
Mereka bilang agama kita jadi masalahnya, apa maslahnya kita sama-sama manusia yang berTuhan
Bukankah kita sama?
Kita sama-sama berada di dunia ini
Kita sama-sama beriman dan berTuhan
Kita hanya menyebut nama Tuhan dengan cara berbeda
Kita hanya memuja Tuhan dengan cara yang berbeda.
Namun, perlahan aku sadar.
Kehidupan ini bukan hanya aku dan kamu seorang
Kita bukan orang yang hidup di pulai tak bernama
Jika perniahan menyatuka kita,
bukan hanya Aku dan Kamu yang harus menerima perbedaan kita dalam menyebut nama Tuhan
Namun keluarga kita juga terlibat
Maafkan aku Sayang
Keluargaku belum mampu, mendengarmu memanggil nama Allah dengan cara yang berbeda
Aku harap, Tuhan kita memberi kita jalan yang terbaik, walau bukan jalan yang dapat kita tempuh beriringan...
Alasan Kegagalan Mengecewakanku.
Beberapa hari lagi, kegiatan Pra Los adik-adik kelasku (kelas X) akan segera di mulai. Jujur saja, aku tidak terlalu mengerti kualitas adik-adik kelasku ini (kualitas yang terlihat dari nilai UNAS ataupun score TPA). Selama pendafaran peserta didik baru tahun ini, aku tidak pernah melihat nilai-nilai adik adik kelas 9 yang masuk ke kelas X, baik yang masuk ke SMA ku ataupun ke SMA lain.
Tidak seperti teman-temanku yang memantau perkembangan nilai siswa siswi yang masuk SMA-SMA favorit.
Kenapa?
Sekarang aku sudah kelas 2 SMA. Dan sampai detik ini aku belum mampu untuk mencintai sekolah ini. Masih ada rasa tidak ikhlas karena aku masuk di SMA yang menjadi pilihan ke 2ku ini. Izinkan saya menulis pengalaman saya.
Waktu itu, waktu UNAS semakin dekat. Buku detik-detik, buku latihan soal dari tempatku les, soal-soal guru, aku kerjakan. Ambisiku sangat besar untuk masuk di SMA favoritku, SMA 6.
Berbagai doa aku lantunkan kepada Tuhan. Selalu ke semangati diriku, yang kadang merasa lelah. Selalu ku ingat nasihat Ibu 'Jangan mudah putus asa Nduk. Kejar cita-citamu, kejar apa yang kamu mau' Di Kota ini aku memang hanya tinggal dengan Pakde, jadi disini aku harus benar-benar mandiri.
Alhamdulillah, aku mendapat nilai 36,05 nilai yang kudapat dengan perjuanganku. Tanpa Joki yang beredar di sana-sini. Kesempatanku masuk SMA 6 semakin dekat. Langkahku kurang melaui tes TPA (tes potensial akademik), semangatku semakin menggebu, ke sana-sini mencari buku, dari toko buku di Mall, hingga menjelajah ke toko loak.
Entah karena gugup atau memang belum siap, score akhirku hanya 113,sekian .
Aku takut nilai ini tak mampu membawaku ke sekolah impianku
Hari pendaftranku tiba, aku mendaftra melalui pendaftran online untuk SMA Kawasan (ada 2 jalur pendaftran SMA kawasan & pendaftran SMA regular) ada 2 pilihan, pilihan pertama aku isi SMA 6, awalnya aku berniat mengosongkan pilihan ke 2, agar kalau aku gagal di SMA 6 aku bisa masuk SMA lain melalui jalur regular. Sayangnya kakak sepupuku memintaku mengisi dengan Sekolah 'X' (Sekolahku saat ini) jujur aku tidak setuju karena kau tidak suka SMA ini namun alasannya "biar kamu tidakrepot nantinya kalau gagal di SMA 6, nanti itu susah lo kalau jalur regular, banyak yang nilainya lebih tinggi". Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku mengisinya. Saat itu Pakdeku yang awalnya bisa aku mintaisaran pergi ke Bandung, aku benar-benar mempertimbangkannya sendirian. Mau tanya ke Ibuku tentang SMA yang bagus di kota ini, beliaujuga tidak tahu karena memang belia tidak tinggal di Kota ini
Hari pengumuan tiba. Jam 2 siang aku cek hasil belum keluar. Jam 5 aku cek hasil belum keluar. Hingga jam 12 aku menunggu, sampai aku lihat temanku membuat tweet di twitter "Alhamdulillah Smanam (SMA 6)" Aku langsung kembali ke halaman ppdb, langsung ku ketik no ujianku dan.....
Aku diterima di SMA...... pilihan ke 2 ku. Aku gagal di SMA 6.
Hancur perasanku, aku marah, kepada Kakaku yang memberi ide mengisi pilihan ke 2, marah aku kepada Tuhan, marah aku kepada keluargaku yang tidak ikut membantuku membantu memilih SMA.
Saat itu selisih nilaiku dengan nilai terendah yang masuk di SMA 6 adalah 0,01. Aku stres. Malam-malam selanjutnya air mata tak henti menetes.
2 Hari kemudian kesempatankudatang lagi, banyak orang tua yang mendatangi dinas pendidikan karen nilai anknya lebih tingi dari nilai terendah di SMA yang di daftra, akhirnya dinas memberi kesempata pemenuhan pagu. Aku masih ingat ketika itu, pagi jam 5:30 aku bersepeda mnecari koran (pemberitaan pemenuhan pagu ada di koran JAWAPOS)
Ketika aku bilang kepada Pakdeku akan hal ini pendapat beliau adalah
"Sudahlah semua sekolah sama saja."
Terakhir aku cek, pemenuhan pagu di SMA 6 nilai yang diterima adalah nilai-nilai di bawahku.
Akhirnya aku melakukan pendaftran ulang di SMA 'X', di jam terakhir sebelum penutupan.
Hingga saat ini aku masih merasa marah akan kejadian ini. Aku meras sudah bekerja eras untuk cita-citaku, ketika aku tinggal 1 langkah lagi, aku merasa orang-orang disekitarku tidak mau berjuang sekeras aku berjuang.
Aku marah bukan karena terlalu berambisi untuk masuk SMA 6.
Aku marah karena orang-orang di sekitarku tidak memahami perjuanganku, apalagi ketika pendaftran aku melakukannya sendiri tanpa dampingan siapapun. Itu yang membuat aku marah, aku merasa kegagalan ini karena kurangnya dukungan orang-orang di sekitarku. Dukungan yang aku butukan di langkah terakhirku.
Well,
Untuk anda orang tua atau keluarga dari anak-anak hebat yang sedang berjuang mengejar cita-citanya.
Dukungan materi memang diperlukan untuk mencapai cita-cita anak anda. Tapi dukungan keluarga dalam bentuk perhatian dan kasih sayang juga sangat dibutuhkan, terlbih lagi ketika aanak anda mengalami kegagalan. Terus dampingi dia,beri masukan dan saran tanpa mereka minta.
Dengan terus mencurahkan perhatian anda terhadap anak tersebut dan terus ikut berjuang untuk cita-cita anak teresbut, DIA TIDAK AKAN TERUS KECEWA DENGAN KEGAGALAN INI TERLEBIH DENGAN KATA 'SEANDAINYA...SEANDAINYA...DAN SEANDAINYA'
Hingga saat ini saya masih berusaha ikhlas, berusaha meyakini ini adalah jalan Tuhan, berusaha bangkit ketika kata 'seandainya..seandainya..seandainya.. muncul di kepala saya.
Hingga saat ini saya masih berusaha memahami kegagalan kemarin dan mempersiapkan kemenangan esok.
-T-
Tidak seperti teman-temanku yang memantau perkembangan nilai siswa siswi yang masuk SMA-SMA favorit.
Kenapa?
Sekarang aku sudah kelas 2 SMA. Dan sampai detik ini aku belum mampu untuk mencintai sekolah ini. Masih ada rasa tidak ikhlas karena aku masuk di SMA yang menjadi pilihan ke 2ku ini. Izinkan saya menulis pengalaman saya.
Waktu itu, waktu UNAS semakin dekat. Buku detik-detik, buku latihan soal dari tempatku les, soal-soal guru, aku kerjakan. Ambisiku sangat besar untuk masuk di SMA favoritku, SMA 6.
Berbagai doa aku lantunkan kepada Tuhan. Selalu ke semangati diriku, yang kadang merasa lelah. Selalu ku ingat nasihat Ibu 'Jangan mudah putus asa Nduk. Kejar cita-citamu, kejar apa yang kamu mau' Di Kota ini aku memang hanya tinggal dengan Pakde, jadi disini aku harus benar-benar mandiri.
Alhamdulillah, aku mendapat nilai 36,05 nilai yang kudapat dengan perjuanganku. Tanpa Joki yang beredar di sana-sini. Kesempatanku masuk SMA 6 semakin dekat. Langkahku kurang melaui tes TPA (tes potensial akademik), semangatku semakin menggebu, ke sana-sini mencari buku, dari toko buku di Mall, hingga menjelajah ke toko loak.
Entah karena gugup atau memang belum siap, score akhirku hanya 113,sekian .
Aku takut nilai ini tak mampu membawaku ke sekolah impianku
Hari pendaftranku tiba, aku mendaftra melalui pendaftran online untuk SMA Kawasan (ada 2 jalur pendaftran SMA kawasan & pendaftran SMA regular) ada 2 pilihan, pilihan pertama aku isi SMA 6, awalnya aku berniat mengosongkan pilihan ke 2, agar kalau aku gagal di SMA 6 aku bisa masuk SMA lain melalui jalur regular. Sayangnya kakak sepupuku memintaku mengisi dengan Sekolah 'X' (Sekolahku saat ini) jujur aku tidak setuju karena kau tidak suka SMA ini namun alasannya "biar kamu tidakrepot nantinya kalau gagal di SMA 6, nanti itu susah lo kalau jalur regular, banyak yang nilainya lebih tinggi". Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku mengisinya. Saat itu Pakdeku yang awalnya bisa aku mintaisaran pergi ke Bandung, aku benar-benar mempertimbangkannya sendirian. Mau tanya ke Ibuku tentang SMA yang bagus di kota ini, beliaujuga tidak tahu karena memang belia tidak tinggal di Kota ini
Hari pengumuan tiba. Jam 2 siang aku cek hasil belum keluar. Jam 5 aku cek hasil belum keluar. Hingga jam 12 aku menunggu, sampai aku lihat temanku membuat tweet di twitter "Alhamdulillah Smanam (SMA 6)" Aku langsung kembali ke halaman ppdb, langsung ku ketik no ujianku dan.....
Aku diterima di SMA...... pilihan ke 2 ku. Aku gagal di SMA 6.
Hancur perasanku, aku marah, kepada Kakaku yang memberi ide mengisi pilihan ke 2, marah aku kepada Tuhan, marah aku kepada keluargaku yang tidak ikut membantuku membantu memilih SMA.
Saat itu selisih nilaiku dengan nilai terendah yang masuk di SMA 6 adalah 0,01. Aku stres. Malam-malam selanjutnya air mata tak henti menetes.
2 Hari kemudian kesempatankudatang lagi, banyak orang tua yang mendatangi dinas pendidikan karen nilai anknya lebih tingi dari nilai terendah di SMA yang di daftra, akhirnya dinas memberi kesempata pemenuhan pagu. Aku masih ingat ketika itu, pagi jam 5:30 aku bersepeda mnecari koran (pemberitaan pemenuhan pagu ada di koran JAWAPOS)
Ketika aku bilang kepada Pakdeku akan hal ini pendapat beliau adalah
"Sudahlah semua sekolah sama saja."
Terakhir aku cek, pemenuhan pagu di SMA 6 nilai yang diterima adalah nilai-nilai di bawahku.
Akhirnya aku melakukan pendaftran ulang di SMA 'X', di jam terakhir sebelum penutupan.
Hingga saat ini aku masih merasa marah akan kejadian ini. Aku meras sudah bekerja eras untuk cita-citaku, ketika aku tinggal 1 langkah lagi, aku merasa orang-orang disekitarku tidak mau berjuang sekeras aku berjuang.
Aku marah bukan karena terlalu berambisi untuk masuk SMA 6.
Aku marah karena orang-orang di sekitarku tidak memahami perjuanganku, apalagi ketika pendaftran aku melakukannya sendiri tanpa dampingan siapapun. Itu yang membuat aku marah, aku merasa kegagalan ini karena kurangnya dukungan orang-orang di sekitarku. Dukungan yang aku butukan di langkah terakhirku.
Well,
Untuk anda orang tua atau keluarga dari anak-anak hebat yang sedang berjuang mengejar cita-citanya.
Dukungan materi memang diperlukan untuk mencapai cita-cita anak anda. Tapi dukungan keluarga dalam bentuk perhatian dan kasih sayang juga sangat dibutuhkan, terlbih lagi ketika aanak anda mengalami kegagalan. Terus dampingi dia,beri masukan dan saran tanpa mereka minta.
Dengan terus mencurahkan perhatian anda terhadap anak tersebut dan terus ikut berjuang untuk cita-cita anak teresbut, DIA TIDAK AKAN TERUS KECEWA DENGAN KEGAGALAN INI TERLEBIH DENGAN KATA 'SEANDAINYA...SEANDAINYA...DAN SEANDAINYA'
Hingga saat ini saya masih berusaha ikhlas, berusaha meyakini ini adalah jalan Tuhan, berusaha bangkit ketika kata 'seandainya..seandainya..seandainya.. muncul di kepala saya.
Hingga saat ini saya masih berusaha memahami kegagalan kemarin dan mempersiapkan kemenangan esok.
-T-
Langganan:
Komentar (Atom)


